Kemenkes: Lonjakan Klaster Kantor DKI Imbas Euforia Vaksin
CNN Indonesia - Peristiwa Senin, 26 April 2021
Kemenkes: lonjakan klaster kantor dki imbas euforia vaksin jakarta, cnn indonesia -- kementerian kesehatan (kemenkes) menyebut lonjakan klaster virus corona (covid-19) di perkantoran dki jakarta diduga terjadi lantaran euforia vaksin. Kondisi itu lantas membuat para pekerja lengah dalam menjalankan protokol kesehatan 3m di lingkungan kerjanya masing-masing. Direktur pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung (p2pml) kemenkes siti nadia tarmizi juga menyoroti kebijakan work from office (wfo) di beberapa kantor ibu kota, yang melebihi ketentuan aturan. Yakni 50 persen wfo dan 50 persen work from home (wfh) selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (ppkm) berskala mikro.
"kalau kita lihat penyebab utama adalah pelaksanaan protokol kesehatan karena ada anggapan setelah divaksin sudah lebih aman, ada euforia. Sehingga protokol kesehatan tidak dilakukan secara optimal," kata nadia saat dihubungi cnnindonesia.com, senin (26/4). #div-gpt-ad-1589439603493-0 iframe{ border: 0px; vertical-align: bottom; position: fixed !important; z-index: 1 !important; left: 0px; right: 0; margin: auto; } nadia juga menekankan ada penyebab lain yang dinilai menjadi sumber transmisi virus corona di perkantoran yakni budaya makan siang bersama, dan juga kontak fisik seperti berjabat tangan dan berpelukan. Apalagi di tengah suasana ramadan, ia mewanti-wanti agar para pekerja kantor tidak melakukan buka bersama di luar area kantor.
Selain itu, mobilitas warga yang diketahui sempat meningkat pada akhir maret hingga awal april juga ditengarai sebagai salah satu faktor penyebab melonjaknya sebaran covid-19 di lingkup perkantoran dki jakarta. "klaster perkantoran tidak selalu terjadi di kantor. Bisa saja dalam perjalanan keluar di tempat-tempat umum itu keterpaparan bisa terjadi. Tapi karena kasusnya memang ada di kantor ya otomatis akan tercatat di kantor," kata dia.
Dengan temuan itu, nadia pun meminta agar satuan tugas (satgas) penanganan covid-19 milik pemerintah daerah dan juga satgas yang bekerja di setiap kantor untuk gencar mengawasi protokol kesehatan para pekerja. Nadia juga meminta agar satgas covid-19 daerah selalu memberikan monitoring dan evaluasi untuk dilaporkan ke satgas covid-19 nasional dan kemenkes sendiri. Sejauh ini pihaknya telah memberikan sosialisasi vaksinasi kepada seluruh institusi atau kantor. "ini tidak bisa dikerjakan kemenkes sendiri.
Pemda dan dinkes harus terus meningkatkan, khususnya satgas covid-19 di level daerah dan kantor. Nah, itu kembali harus diingatkan untuk menjalankan protokol kesehatan, karena vaksinasi saja tidak cukup di masa pandemi," pungkas nadia. Pemerintah provinsi dki jakarta sebelumnya menyebut kasus positif virus corona klaster perkantoran kembali meningkat. Informasi itu diunggah akun resmi pemerintah provinsi dki jakarta, @dkijakarta di instagram, sabtu (24/4) lalu.
Disebutkan bahwa pada periode 12-18 april 2021 ada 425 jumlah kasus positif yang ditemukan di 177 perkantoran. Jumlah tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dibanding periode 5-11 april 2021 yang hanya mencatatkan 157 kasus dari 78 perkantoran. Dki jakarta tercatat pernah menerapkan kebijakan wfh penuh, kecuali 11 sektor esensial. Kebijakan itu diterapkan pada april 2020 lalu kala ibukota menjalankan pembatasan sosial berskala besar (psbb) untuk pertama kali.
Baca Juga
0 Komentar
Untuk membuat komentar silahkan login terlebih dahulu
Perankan Badarawuhi di Film KKN di Desa Penari, Begini 5 Potret Kecantikan Aulia Sarah
Dua Remaja Terlibat Perkelahian
Korut Umumkan Satu Kasus Meninggal Covid-19, Ratusan Ribu Orang Demam
Merasa Laporan Kasus Penganiayaan Cuma Didiamkan, Warga Bawa Jenazah Korban ke Kantor Polisi
Pernikahan yang Tak Dihadiri Mempelai Pria di Magetan Habiskan Biaya Rp 45 Juta, Sawah Jadi Jaminan
Ingat Nobu? Dulu Bikin Heboh Terlibat Video Syur 19 Detik Bareng Gisel, Kini Geluti Profesi Baru
Kaesang Naik Sepeda bareng Gibran, Netizen: Itu yang Dimainin Sepeda Paspampres Ya?
Korea Utara Konfirmasi Kematian Pertama akibat Covid-19 setelah 350.000 Orang Alami Demam